Dari Lantunan Ayat hingga Hangatnya Jabat Tangan: Merawat Karakter Murid di SMK NU Al Hidayah

Daftar Isi

SMK NU Al Hidayah bentuk karakter murid melalui Pesantren Ramadan dan tradisi halalbihalal untuk perkuat nilai spiritual serta adab kepada guru.

Murid SMK NU Al Hidayah Kudus tampak khusyuk tadarus Al-Qur'an pada bulan Ramadan 1447 H.

KUDUS, BABAD.ID | Stori Loka Jawa - Pagi itu, hiruk-pikuk khas sekolah perlahan berganti dengan suasana yang lebih hening. Di sudut-sudut SMK NU Al Hidayah, langkah para murid terdengar bergegas namun teratur. Para murid putri tampak mendekap mukena, sementara murid putra merapikan peci di kepala menuju aula. Hari itu, bukan buku kejuruan yang menjadi fokus utama, melainkan lembaran kitab suci. Bulan Ramadan 1447 H telah menyulap ruang-ruang kelas menjadi majelis ilmu yang sejuk.

Melalui program Pesantren Ramadan bertajuk “Bangunlah Jiwa dan Raganya”, SMK NU Al Hidayah mencoba menarik sejenak para muridnya dari penatnya rutinitas akademik. Ini bukan sekadar proyek kokurikuler untuk menggugurkan kewajiban, melainkan sebuah jeda spiritual untuk menata hati.

“Kegiatan ini bertujuan membentuk karakter serta memperdalam pemahaman keagamaan murid. Kami menanamkan nilai disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab, sekaligus memperkuat akidah,” jelas Salis Umaroh, fasilitator kegiatan tersebut baru-baru ini.

Rangkaian pagi dimulai dengan khusyuknya salat dhuha berjamaah, dilanjutkan dengan tadarus Al-Qur’an. Suara lantunan ayat suci yang bersahutan seolah menjadi embusan angin yang menenangkan jiwa. Namun, Pesantren Ramadan ini tak berhenti pada ibadah lisan. Para murid juga diajak menyelami kajian kitab dan ilmu fikih dasar yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari tata cara bersuci hingga adab pergaulan.

Salis Umaroh juga menegaskan bahwa pengetahuan harus berjalan beriringan dengan adab. “Ilmu tanpa didasari akhlak tidak akan memiliki manfaat,” ungkapnya.

Pentingnya pemahaman agama yang aplikatif juga ditekankan dalam sesi ngaji kitab. Menurut Ustadzah Fina, narasumber kegiatan, bekal ini krusial agar pelajar tidak canggung saat berbaur di masyarakat. “Dasar-dasar fikih harian perlu dipahami dengan baik agar lebih mudah diamalkan,” tuturnya.

Menariknya, kajian ini jauh dari kesan membosankan. Alih-alih mengantuk karena menahan lapar dan dahaga, wajah-wajah di forum kajian justru tampak hidup. Ruang diskusi yang memisahkan murid putra dan putri memberi keleluasaan tersendiri. Beberapa murid di barisan depan tak segan mengacungkan tangan tinggi-tinggi untuk melempar pertanyaan.

“Anak-anak terlihat tertarik dan antusias dengan kajian kitab yang disampaikan. Ada yang berani bertanya, ada pula yang menyampaikan pendapat sehingga forum diskusi menjadi lebih hidup dan tidak monoton,” tambahnya.

Semangat perbaikan diri selama Ramadan tersebut kemudian bermuara pada tradisi yang tak kalah menghangatkan hati: halalbihalal murid ke rumah guru. Tradisi yang digelar ketika Idulfitri ini menjadi jembatan untuk merajut kembali ikatan yang sempat renggang.

Dimulai dari rumah wali kelas masing-masing, rombongan murid bergerak bersama untuk bersilaturahmi ke kediaman para guru, pengurus yayasan, hingga kepala sekolah. Jika dulu memori ini terekam lewat pemandangan puluhan murid yang berdesakan di mobil bak terbuka, kini iring-iringan sepeda motorlah yang membelah jalanan, membawa wajah-wajah ceria yang siap mengetuk pintu rumah para "pahlawan tanpa tanda jasa".

Kegiatan halal bihalal murid SMK NU Al Hidayah Kudus ke rumah para guru.

Khoirudin, Kepala SMK NU Al Hidayah, menjelaskan bahwa halalbihalal memiliki makna vertikal dan horizontal. Secara vertikal, ini berkaitan dengan habluminallah, yaitu upaya mendekatkan diri kepada Allah melalui adab silaturahmi. Secara horizontal, kegiatan ini menjadi sarana krusial memperbaiki hubungan antarsesama.

“Satu tahun proses belajar itu panjang. Tentu ada kesalahan yang disadari maupun tidak. Melalui momen ini, guru dan murid saling memaafkan sehingga hubungan kembali bersih, laksana lembaran baru,” tambahnya.

Ikatan batin ini terbukti tidak mudah putus. Banyak alumni yang tetap datang bersilaturahmi meski telah bertahun-tahun lulus, bahkan membawa serta keluarga kecil mereka. Hal ini membuktikan bahwa wali kelas bukan sekadar pengajar, melainkan sosok pengganti orang tua yang dihormati sepanjang masa.

Melalui Pesantren Ramadan dan halalbihalal, SMK NU Al Hidayah tidak hanya mengasah intelektualitas, tetapi juga menempa hati. Karena pada akhirnya, pendidikan sejati adalah tentang bagaimana karakter dibentuk untuk menghadapi masa depan.***

Penulis: Fauziyatul Husna, kelas XI Busana SMK NU Al Hidayah Kudus

Posting Komentar